HINDARI PENIPUAN, LAKUKAN 4 LANGKAH INI SAAT MEMBELI MOBIL DI DEALER HONDA BINTANG SOLO

HINDARI PENIPUAN, LAKUKAN 4 LANGKAH INI SAAT MEMBELI MOBIL DI DEALER HONDA BINTANG SOLO

Saat melakukan transaksi apapun, tentunya kita perlu memperhatikan beberapa hal untuk terhindar dari penipuan. Begitu juga saat membeli mobil di dealer Honda Bintang Solo, ada prosedur standar yang harus Anda ikuti sebagai konsumen agar transaksi tersebut berjalan dengan aman.

Bagaimana prosedur pembelian mobil yang benar di dealer agar terhindar dari penipuan? Berikut 4 langkah yang harus anda jalankan saat membeli mobil di Honda Solo Baru:

1.) Pastikan Anda Menerima E-SPK (Elektronik Surat Pemesanan Kendaraan)

Saat bertransaksi, jangan melakukan transfer DP (Down Payment) maupun pelunasan apabila Anda belum menerima form Surat Pesanan Kendaraan SPK sebagai bukti pelaksanaan transaksi, dan pastikan lembar SPK yang Anda terima merupakan form resmi yang dikeluarkan oleh dealer tempat Anda melakukan pembelian. Surat pemesanan kendaraan di Honda Bintang Solo berbentuk PDF yang akan terkirim langsung  ke Email Konsumen dan konsumen akan menerima notifikasi dan mendapatkan kode verifikasi 6 digit angka ke SMS / WhatsApp.

2.) Pelajari Isi SPK

Berikutnya, Anda perlu mempelajari dengan seksama syarat dan ketentuan yang tercantum didalam SPK. Pastikan model, tipe dan harga mobil yang telah disepakati sesuai dengan yang tertulis di SPK, juga tanyakan ke sales person apabila ada poin-poin yang Anda kurang mengerti.

3.) Jangan Transfer Selain ke Rekening Resmi Dealer

Saat melakukan pembayaran DP (Down Payment) maupun pelunasan, Anda harus melakukan transfer ke rekening resmi dealer yang tercantum didalam SPK. Jangan melakukan transfer ke rekening pribadi sales person ataupun rekening lain diluar rekening resmi dealer tempat Anda bertransaksi. Di Honda Bintang Solo bertransaksi kini lebih mudah, aman dan cepat karena Pembayaran akan dibuatkan Nomor Virtual Account dari Bank BRI, MANDIRI, BCA, Dan Bank BPD Jawa Tengah, dan saat ini ada model pembayaran melalui E-Coomerce Toko Pedia.

Apabila ada pihak-pihak yang membujuk Anda untuk melakukan transfer ke rekening lain dengan dalih apapun, Anda dapat menghubungi Honda Customer Care di Honda Solo Baru di No. 082138850239 atau 082138850238 jam 08:00-16:00 WIB

4.) Tanda Tangan SPK

Setelah mempelajari dan menyetujui isi E-SPK, serta memastikan bahwa Anda telah melakukan transfer ke rekening resmi dealer atau rekening Virtual Account, selanjutnya Anda dapat menandatangani E-SPK tersebut dan memperoleh Email untuk Anda simpan sebagai bukti transaksi.

Yuk lakukan transaksi sesuai prosedur untuk keamanan dan kenyamanan Anda!

Call : 085171178455

 Dealer Honda Bintang Solo

Jl. Slamet Riyadi No 181 Kemlayan, Serengan Surakarta

Call : 085175288455

jl. Ir. Soekarno No 168 Solo Baru Sukoharjo

Call : 085171178455

 Dealer Honda Bintang Solo

Jl. Slamet Riyadi No 181 Kemlayan, Serengan Surakarta

Call : 085175288455

[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]Kunjungi Dealer Resmi Kami 

 Dealer Honda Solo Baru 

jl. Ir. Soekarno No 168 Solo Baru Sukoharjo

Call : 085171178455

 Dealer Honda Bintang Solo

Jl. Slamet Riyadi No 181 Kemlayan, Serengan Surakarta

Call : 085175288455

[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]

Kunjungi Dealer Resmi Kami 

 Dealer Honda Solo Baru 

jl. Ir. Soekarno No 168 Solo Baru Sukoharjo

Call : 085171178455

 Dealer Honda Bintang Solo

Jl. Slamet Riyadi No 181 Kemlayan, Serengan Surakarta

Call : 085175288455

[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]
BERKENDARA SAAT HUJAN, PASTIKAN BAN MOBIL TIDAK GUNDUL! SIMAK 4 CIRI-CIRINYA

BERKENDARA SAAT HUJAN, PASTIKAN BAN MOBIL TIDAK GUNDUL! SIMAK 4 CIRI-CIRINYA

Berkendara di musim hujan menuntut perhatian yang ekstra dari pengemudinya. Selain harus lebih waspada saat berkendara di cuaca hujan dan berkabut, memperhatikan kondisi mobil juga sama pentingnya agar perjalanan Anda tetap aman. Selain melakukan penggantian karet wiper seperti yang telah dibahas pada artikel sebelumnya, Anda juga perlu memastikan keempat ban mobil Anda berada dalam kondisi baik, alias tidak gundul, benjol maupun retak-retak.

Apa saja ciri-ciri ban mobil yang sudah harus diganti? Simak penjelasan berikut!

1.) Permukaan Ban Gundul

Permukaan ban yang gundul dapat dicek dengan melihat kondisinya secara langsung. Bagian ban yang gundul biasanya sudah menipis sehingga alur ban tidak terlihat dengan jelas.

Kondisi ban yang gundul dapat terjadi di beberapa bagian, yakni ada yang hanya di tengah, hanya di bagian tepi atau di sisi tertentu saja. Dimanapun letak permukaan yang gundul, ban Anda harus tetap diganti karena permukaan yang gundul membuat ketebalan ban tidak lagi seragam.

Penyebab ban gundul ditengah biasanya disebabkan karena ban sering diisi tekanan udara yang melebihi standar. Sebaliknya, gundul pada bagian pinggir cenderung disebabkan ban memiliki tekanan udara yang rendah. Oleh karena itu, selalu perhatikan angka tekanan ban standar di mobil Anda, yang terdapat pada sisi pintu pengemudi bagian dalam.

Tidak hanya itu, ban juga dapat cepat gundul saat Anda sering melakukan pengereman secara mendadak, sehingga ban bergesekan keras dengan aspal. Oleh karena itu, biasakan mengerem secara halus dari jarak jauh ya!

2.) Ketebalan Tapak Ban Mencapai Batas TWI

Apa itu batas TWI? TWI merupakan singkatan dari Tread War Indicator, yakni batas keausan ban yang diizinkan untuk tetap dipakai. Ada dua posisi indikator TWI yang biasanya terdapat pada ban, yakni di bagian tepi ban berupa segitiga kecil, serta di bagian telapak ban yang berbentuk tonjolan, namun tidak sampai setinggi kembang ban. Apabila ketebalan ban Anda telah menyentuh batas tersebut, maka ban Anda sudah aus dan harus segera diganti.

3.) Bentuk Ban Benjol

Benjolan pada ban merupakan pertanda bahwa terdapat anyaman benang atau kawat penguat konstruksi ban yang putus. Ban dengan benjolan tentu membuat bentuk dan ketahanannya tidak lagi seragam, sehingga rawan pecah dijalan.

Penyebab ban benjol bervariasi, diantaranya yakni karena kurangnya tekanan udara di dalam ban sehingga beberapa bagian ban harus menanggung beban lebih berat.

Penyebab lainnya adalah kebiasaan mengemudi yang buruk, yakni melewati jalan rusak atau berlubang dengan kecepatan tinggi atau dengan muatan berlebihan. Hal ini menyebabkan beban ban tidak merata sehingga kawat konstruksinya putus.4.) Ban Retak-retak

4.) Ban Retak-retak

Ban dengan permukaan yang retak biasanya terjadi pada sisi samping. Hal ini disebabkan mobil sering diletakkan di tempat yang tidak memiliki atap, sehingga terkena paparan sinar matahari langsung. Ban yang terus menerus berada dalam suhu panas lama kelamaan dapat rapuh, retak dan cepat rusak. Sebaiknya, parkir mobil Anda di tempat teduh dan lakukan pemeliharaan dengan membersihkan ban secara rutin, serta mengoles cairan khusus yang dapat membantu menjaga kelenturan ban. Apabila permukaan ban sudah retak, segera ganti dengan yang baru.

BEGINI CARA MODIFIKASI KENDARAAN TANPA KENA TILANG

BEGINI CARA MODIFIKASI KENDARAAN TANPA KENA TILANG

  • Menggunakan ban jenis slick, yang dapat membahayakan pengemudi.
  • Apabila melanggar aturan, apa saja resiko yang dapat terjadi? Berikut beberapa resikonya:

    1. Terkena tilang (Peringatan tertulis dan denda administratif.)
    2. Apabila tidak melakukan uji tipe, dapat terkena pidana penjara paling lama 1 tahun atau denda paling banyak Rp 24.000.000 (Pasal 277 UU No. 22/2009)
    3. Resiko kecelakaan saat perjalanan, karena modifikasi tidak sesuai standar.
    4. Berakibat hilangnya garansi dari pabrikan karena modifikasi yang telah dilakukan.

    Yuk selalu utamakan keselamatan dalam berkendara dan patuhi peraturan saat melakukan modifikasi!

    [/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]
  • Jika menyebabkan perubahan dimensi dan kemampuan daya angkut, maka:
      • Wajib terlebih dahulu memperoleh rekomendasi dari Agen Tunggal Pemegang Merk (ATPM)
      • Wajib dilakukan oleh bengkel umum yang ditunjuk oleh Kementerian Perindustrian
      • Wajib melakukan uji tipe setelah kendaraan dimodifikasi

    Kemudian, seperti apa contoh modifikasi kendaraan yang melanggar aturan? Berikut beberapa contohnya:

    1. Mengubah kubika / cc mesin, sehingga wajib melakukan uji tipe.
    2. Mengubah knalpot menjadi knalpot racing atau tidak sesuai standar, sehingga dapat terkena tilang.
    3. Menghilangkan perlengkapan keselamatan seperti APAR dan safety belt, yang membahayakan pengemudi.
    4. Mengubah tempat pemasangan pla kendaraan, sehingga wajib uji tipe.
    5. Mengubah warna kendaraanm sehingga wajib merubah keterangan warna pada STNK dan BPKB.
    6. Menggunakan ban jenis slick, yang dapat membahayakan pengemudi.

    Apabila melanggar aturan, apa saja resiko yang dapat terjadi? Berikut beberapa resikonya:

    1. Terkena tilang (Peringatan tertulis dan denda administratif.)
    2. Apabila tidak melakukan uji tipe, dapat terkena pidana penjara paling lama 1 tahun atau denda paling banyak Rp 24.000.000 (Pasal 277 UU No. 22/2009)
    3. Resiko kecelakaan saat perjalanan, karena modifikasi tidak sesuai standar.
    4. Berakibat hilangnya garansi dari pabrikan karena modifikasi yang telah dilakukan.

    Yuk selalu utamakan keselamatan dalam berkendara dan patuhi peraturan saat melakukan modifikasi!

    [/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]Ada beberapa syarat yang harus diikuti apabila Anda ingin memodifikasi mobil, diantaranya tercantum pada Pasal 20 Ayat 1 huruf F PP Nomor 30 tahun 2021, yang menjelaskan bahwa kendaraan bermotor yang dimodifikasi sehingga menyebabkan perubahan dimensi dan kemampuan daya angkut wajib dilakukan penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor sebagai prasyarat Uji Tipe.

    Lantas, seperti apa jenis modifikasi kendaraan yang diperbolehkan? Berikut penjelasannya:

    1. Modifikasi kendaraan yang diperbolehkan adalah modifikasi yang tidak menyebabkan perubahan dimensi dan kemampuan daya angkut.
    2. Modifikasi kendaraan tidak boleh membahayakan keselamatan berlalu lintas, serta merusak lapir perkerasan/daya dukung jalan yang dilalui (Pasal 52 UU No. 22/2009)
    3. Jika menyebabkan perubahan dimensi dan kemampuan daya angkut, maka:
      • Wajib terlebih dahulu memperoleh rekomendasi dari Agen Tunggal Pemegang Merk (ATPM)
      • Wajib dilakukan oleh bengkel umum yang ditunjuk oleh Kementerian Perindustrian
      • Wajib melakukan uji tipe setelah kendaraan dimodifikasi

    Kemudian, seperti apa contoh modifikasi kendaraan yang melanggar aturan? Berikut beberapa contohnya:

    1. Mengubah kubika / cc mesin, sehingga wajib melakukan uji tipe.
    2. Mengubah knalpot menjadi knalpot racing atau tidak sesuai standar, sehingga dapat terkena tilang.
    3. Menghilangkan perlengkapan keselamatan seperti APAR dan safety belt, yang membahayakan pengemudi.
    4. Mengubah tempat pemasangan pla kendaraan, sehingga wajib uji tipe.
    5. Mengubah warna kendaraanm sehingga wajib merubah keterangan warna pada STNK dan BPKB.
    6. Menggunakan ban jenis slick, yang dapat membahayakan pengemudi.

    Apabila melanggar aturan, apa saja resiko yang dapat terjadi? Berikut beberapa resikonya:

    1. Terkena tilang (Peringatan tertulis dan denda administratif.)
    2. Apabila tidak melakukan uji tipe, dapat terkena pidana penjara paling lama 1 tahun atau denda paling banyak Rp 24.000.000 (Pasal 277 UU No. 22/2009)
    3. Resiko kecelakaan saat perjalanan, karena modifikasi tidak sesuai standar.
    4. Berakibat hilangnya garansi dari pabrikan karena modifikasi yang telah dilakukan.

    Yuk selalu utamakan keselamatan dalam berkendara dan patuhi peraturan saat melakukan modifikasi!

    [/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]Berdasarkan Pasal 1 Angka 12 PP Nomor 55 Tahun 2012, modifikasi kendaraan bermotor diartikan sebagai perubahan terhadap spesifikasi teknis dimensi, mesin, dan/atau kemampuan daya angkut kendaraan bermotor.

    Ada beberapa syarat yang harus diikuti apabila Anda ingin memodifikasi mobil, diantaranya tercantum pada Pasal 20 Ayat 1 huruf F PP Nomor 30 tahun 2021, yang menjelaskan bahwa kendaraan bermotor yang dimodifikasi sehingga menyebabkan perubahan dimensi dan kemampuan daya angkut wajib dilakukan penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor sebagai prasyarat Uji Tipe.

    Lantas, seperti apa jenis modifikasi kendaraan yang diperbolehkan? Berikut penjelasannya:

    1. Modifikasi kendaraan yang diperbolehkan adalah modifikasi yang tidak menyebabkan perubahan dimensi dan kemampuan daya angkut.
    2. Modifikasi kendaraan tidak boleh membahayakan keselamatan berlalu lintas, serta merusak lapir perkerasan/daya dukung jalan yang dilalui (Pasal 52 UU No. 22/2009)
    3. Jika menyebabkan perubahan dimensi dan kemampuan daya angkut, maka:
      • Wajib terlebih dahulu memperoleh rekomendasi dari Agen Tunggal Pemegang Merk (ATPM)
      • Wajib dilakukan oleh bengkel umum yang ditunjuk oleh Kementerian Perindustrian
      • Wajib melakukan uji tipe setelah kendaraan dimodifikasi

    Kemudian, seperti apa contoh modifikasi kendaraan yang melanggar aturan? Berikut beberapa contohnya:

    1. Mengubah kubika / cc mesin, sehingga wajib melakukan uji tipe.
    2. Mengubah knalpot menjadi knalpot racing atau tidak sesuai standar, sehingga dapat terkena tilang.
    3. Menghilangkan perlengkapan keselamatan seperti APAR dan safety belt, yang membahayakan pengemudi.
    4. Mengubah tempat pemasangan pla kendaraan, sehingga wajib uji tipe.
    5. Mengubah warna kendaraanm sehingga wajib merubah keterangan warna pada STNK dan BPKB.
    6. Menggunakan ban jenis slick, yang dapat membahayakan pengemudi.

    Apabila melanggar aturan, apa saja resiko yang dapat terjadi? Berikut beberapa resikonya:

    1. Terkena tilang (Peringatan tertulis dan denda administratif.)
    2. Apabila tidak melakukan uji tipe, dapat terkena pidana penjara paling lama 1 tahun atau denda paling banyak Rp 24.000.000 (Pasal 277 UU No. 22/2009)
    3. Resiko kecelakaan saat perjalanan, karena modifikasi tidak sesuai standar.
    4. Berakibat hilangnya garansi dari pabrikan karena modifikasi yang telah dilakukan.

    Yuk selalu utamakan keselamatan dalam berkendara dan patuhi peraturan saat melakukan modifikasi!

    [/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]Namun, ada hal-hal yang wajib Anda perhatikan sebelum memodifikasi kendaraan, karena modifikasi kendaraan sendiri sudah diatur melalui Peraturan Pemerintah (PP) sehingga Anda perlu memastikan modifikasi yang dilakukan tetap memperhatikan aspek keamanan, kenyamanan dan tidak melanggar peraturan yang ada.

    Berdasarkan Pasal 1 Angka 12 PP Nomor 55 Tahun 2012, modifikasi kendaraan bermotor diartikan sebagai perubahan terhadap spesifikasi teknis dimensi, mesin, dan/atau kemampuan daya angkut kendaraan bermotor.

    Ada beberapa syarat yang harus diikuti apabila Anda ingin memodifikasi mobil, diantaranya tercantum pada Pasal 20 Ayat 1 huruf F PP Nomor 30 tahun 2021, yang menjelaskan bahwa kendaraan bermotor yang dimodifikasi sehingga menyebabkan perubahan dimensi dan kemampuan daya angkut wajib dilakukan penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor sebagai prasyarat Uji Tipe.

    Lantas, seperti apa jenis modifikasi kendaraan yang diperbolehkan? Berikut penjelasannya:

    1. Modifikasi kendaraan yang diperbolehkan adalah modifikasi yang tidak menyebabkan perubahan dimensi dan kemampuan daya angkut.
    2. Modifikasi kendaraan tidak boleh membahayakan keselamatan berlalu lintas, serta merusak lapir perkerasan/daya dukung jalan yang dilalui (Pasal 52 UU No. 22/2009)
    3. Jika menyebabkan perubahan dimensi dan kemampuan daya angkut, maka:
      • Wajib terlebih dahulu memperoleh rekomendasi dari Agen Tunggal Pemegang Merk (ATPM)
      • Wajib dilakukan oleh bengkel umum yang ditunjuk oleh Kementerian Perindustrian
      • Wajib melakukan uji tipe setelah kendaraan dimodifikasi

    Kemudian, seperti apa contoh modifikasi kendaraan yang melanggar aturan? Berikut beberapa contohnya:

    1. Mengubah kubika / cc mesin, sehingga wajib melakukan uji tipe.
    2. Mengubah knalpot menjadi knalpot racing atau tidak sesuai standar, sehingga dapat terkena tilang.
    3. Menghilangkan perlengkapan keselamatan seperti APAR dan safety belt, yang membahayakan pengemudi.
    4. Mengubah tempat pemasangan pla kendaraan, sehingga wajib uji tipe.
    5. Mengubah warna kendaraanm sehingga wajib merubah keterangan warna pada STNK dan BPKB.
    6. Menggunakan ban jenis slick, yang dapat membahayakan pengemudi.

    Apabila melanggar aturan, apa saja resiko yang dapat terjadi? Berikut beberapa resikonya:

    1. Terkena tilang (Peringatan tertulis dan denda administratif.)
    2. Apabila tidak melakukan uji tipe, dapat terkena pidana penjara paling lama 1 tahun atau denda paling banyak Rp 24.000.000 (Pasal 277 UU No. 22/2009)
    3. Resiko kecelakaan saat perjalanan, karena modifikasi tidak sesuai standar.
    4. Berakibat hilangnya garansi dari pabrikan karena modifikasi yang telah dilakukan.

    Yuk selalu utamakan keselamatan dalam berkendara dan patuhi peraturan saat melakukan modifikasi!

    [/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]Modifikasi kendaraan, baik roda dua maupun roda empat cukup digemari oleh sebagian orang. Melalui modifikasi, tampilan kendaraan dapat disesuaikan dengan karakter dan kebutuhan Anda, serta memiliki penampilan yang unik dan berbeda dari kendaraan pada umumnya.

    Namun, ada hal-hal yang wajib Anda perhatikan sebelum memodifikasi kendaraan, karena modifikasi kendaraan sendiri sudah diatur melalui Peraturan Pemerintah (PP) sehingga Anda perlu memastikan modifikasi yang dilakukan tetap memperhatikan aspek keamanan, kenyamanan dan tidak melanggar peraturan yang ada.

    Berdasarkan Pasal 1 Angka 12 PP Nomor 55 Tahun 2012, modifikasi kendaraan bermotor diartikan sebagai perubahan terhadap spesifikasi teknis dimensi, mesin, dan/atau kemampuan daya angkut kendaraan bermotor.

    Ada beberapa syarat yang harus diikuti apabila Anda ingin memodifikasi mobil, diantaranya tercantum pada Pasal 20 Ayat 1 huruf F PP Nomor 30 tahun 2021, yang menjelaskan bahwa kendaraan bermotor yang dimodifikasi sehingga menyebabkan perubahan dimensi dan kemampuan daya angkut wajib dilakukan penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor sebagai prasyarat Uji Tipe.

    Lantas, seperti apa jenis modifikasi kendaraan yang diperbolehkan? Berikut penjelasannya:

    1. Modifikasi kendaraan yang diperbolehkan adalah modifikasi yang tidak menyebabkan perubahan dimensi dan kemampuan daya angkut.
    2. Modifikasi kendaraan tidak boleh membahayakan keselamatan berlalu lintas, serta merusak lapir perkerasan/daya dukung jalan yang dilalui (Pasal 52 UU No. 22/2009)
    3. Jika menyebabkan perubahan dimensi dan kemampuan daya angkut, maka:
      • Wajib terlebih dahulu memperoleh rekomendasi dari Agen Tunggal Pemegang Merk (ATPM)
      • Wajib dilakukan oleh bengkel umum yang ditunjuk oleh Kementerian Perindustrian
      • Wajib melakukan uji tipe setelah kendaraan dimodifikasi

    Kemudian, seperti apa contoh modifikasi kendaraan yang melanggar aturan? Berikut beberapa contohnya:

    1. Mengubah kubika / cc mesin, sehingga wajib melakukan uji tipe.
    2. Mengubah knalpot menjadi knalpot racing atau tidak sesuai standar, sehingga dapat terkena tilang.
    3. Menghilangkan perlengkapan keselamatan seperti APAR dan safety belt, yang membahayakan pengemudi.
    4. Mengubah tempat pemasangan pla kendaraan, sehingga wajib uji tipe.
    5. Mengubah warna kendaraanm sehingga wajib merubah keterangan warna pada STNK dan BPKB.
    6. Menggunakan ban jenis slick, yang dapat membahayakan pengemudi.

    Apabila melanggar aturan, apa saja resiko yang dapat terjadi? Berikut beberapa resikonya:

    1. Terkena tilang (Peringatan tertulis dan denda administratif.)
    2. Apabila tidak melakukan uji tipe, dapat terkena pidana penjara paling lama 1 tahun atau denda paling banyak Rp 24.000.000 (Pasal 277 UU No. 22/2009)
    3. Resiko kecelakaan saat perjalanan, karena modifikasi tidak sesuai standar.
    4. Berakibat hilangnya garansi dari pabrikan karena modifikasi yang telah dilakukan.

    Yuk selalu utamakan keselamatan dalam berkendara dan patuhi peraturan saat melakukan modifikasi!

    [/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]

    Modifikasi kendaraan, baik roda dua maupun roda empat cukup digemari oleh sebagian orang. Melalui modifikasi, tampilan kendaraan dapat disesuaikan dengan karakter dan kebutuhan Anda, serta memiliki penampilan yang unik dan berbeda dari kendaraan pada umumnya.

    Namun, ada hal-hal yang wajib Anda perhatikan sebelum memodifikasi kendaraan, karena modifikasi kendaraan sendiri sudah diatur melalui Peraturan Pemerintah (PP) sehingga Anda perlu memastikan modifikasi yang dilakukan tetap memperhatikan aspek keamanan, kenyamanan dan tidak melanggar peraturan yang ada.

    Berdasarkan Pasal 1 Angka 12 PP Nomor 55 Tahun 2012, modifikasi kendaraan bermotor diartikan sebagai perubahan terhadap spesifikasi teknis dimensi, mesin, dan/atau kemampuan daya angkut kendaraan bermotor.

    Ada beberapa syarat yang harus diikuti apabila Anda ingin memodifikasi mobil, diantaranya tercantum pada Pasal 20 Ayat 1 huruf F PP Nomor 30 tahun 2021, yang menjelaskan bahwa kendaraan bermotor yang dimodifikasi sehingga menyebabkan perubahan dimensi dan kemampuan daya angkut wajib dilakukan penelitian rancang bangun dan rekayasa kendaraan bermotor sebagai prasyarat Uji Tipe.

    Lantas, seperti apa jenis modifikasi kendaraan yang diperbolehkan? Berikut penjelasannya:

    1. Modifikasi kendaraan yang diperbolehkan adalah modifikasi yang tidak menyebabkan perubahan dimensi dan kemampuan daya angkut.
    2. Modifikasi kendaraan tidak boleh membahayakan keselamatan berlalu lintas, serta merusak lapir perkerasan/daya dukung jalan yang dilalui (Pasal 52 UU No. 22/2009)
    3. Jika menyebabkan perubahan dimensi dan kemampuan daya angkut, maka:
      • Wajib terlebih dahulu memperoleh rekomendasi dari Agen Tunggal Pemegang Merk (ATPM)
      • Wajib dilakukan oleh bengkel umum yang ditunjuk oleh Kementerian Perindustrian
      • Wajib melakukan uji tipe setelah kendaraan dimodifikasi

    Kemudian, seperti apa contoh modifikasi kendaraan yang melanggar aturan? Berikut beberapa contohnya:

    1. Mengubah kubika / cc mesin, sehingga wajib melakukan uji tipe.
    2. Mengubah knalpot menjadi knalpot racing atau tidak sesuai standar, sehingga dapat terkena tilang.
    3. Menghilangkan perlengkapan keselamatan seperti APAR dan safety belt, yang membahayakan pengemudi.
    4. Mengubah tempat pemasangan pla kendaraan, sehingga wajib uji tipe.
    5. Mengubah warna kendaraanm sehingga wajib merubah keterangan warna pada STNK dan BPKB.
    6. Menggunakan ban jenis slick, yang dapat membahayakan pengemudi.

    Apabila melanggar aturan, apa saja resiko yang dapat terjadi? Berikut beberapa resikonya:

    1. Terkena tilang (Peringatan tertulis dan denda administratif.)
    2. Apabila tidak melakukan uji tipe, dapat terkena pidana penjara paling lama 1 tahun atau denda paling banyak Rp 24.000.000 (Pasal 277 UU No. 22/2009)
    3. Resiko kecelakaan saat perjalanan, karena modifikasi tidak sesuai standar.
    4. Berakibat hilangnya garansi dari pabrikan karena modifikasi yang telah dilakukan.

    Yuk selalu utamakan keselamatan dalam berkendara dan patuhi peraturan saat melakukan modifikasi!

    HONDA AKAN TAMPILKAN 5 PRODUK ELEKTRIFIKASI DAN LUNCURKAN PRODUK BARU DI AJANG GIIAS 2023

    HONDA AKAN TAMPILKAN 5 PRODUK ELEKTRIFIKASI DAN LUNCURKAN PRODUK BARU DI AJANG GIIAS 2023

    PT Honda Prospect Motor mengumumkan tema “Energize to Accelerate” untuk booth yang akan ditampilkan pada ajang pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2023, dalam acara konferensi pers yang digelar di Jakarta, 13 Juli 2023. Sejalan dengan tema tersebut, Honda akan menampilkan 5 mobil berteknologi elektrik dan meluncurkan sebuah mobil baru di ajang GIIAS mendatang.

    Tema yang diusung Honda untuk GIIAS tahun ini sejalan dengan penerapan visi Honda untuk memperkenalkan teknologi otomotif baru yang lebih ramah lingkungan, yang telah dimulai dari mesin bensin yang lebih bersih dan hemat bahan bakar, mesin hybrid yang sporty dan efisien, hingga mobil listrik dengan teknologi terdepan. Secara global, Honda telah menetapkan target untuk mencapai elektrifikasi 100% untuk seluruh produknya pada tahun 2040.

    Visi elektrifikasi Honda tersebut akan ditampilkan melalui 5 unit display yang menggambarkan komitmen Honda untuk menawarkan solusi kendaraan ramah lingkungan untuk berbagai kebutuhan masyarakat global, termasuk di Indonesia. Selain itu, booth Honda juga akan menghadirkan berbagai peraga dan fasilitas sebagai edukasi terhadap pengunjung mengenai teknologi terdepan Honda di bidang lingkungan, konektivitas, dan keselamatan berkendara.

    Selain menampilkan berbagai teknologi, booth Honda juga tetap mempertahankan karakter sporty dan fun to drive dengan menampilkan rangkaian mobil terbarunya. Mobil-mobil Honda di ajang ini tidak hanya hadir dalam tampilan standar, tetapi juga dengan berbagai modifikasi tampilan untuk menggambarkan penggunaannya di berbagai aktivitas. Tidak hanya model yang telah ada saat ini, Honda juga akan meluncurkan sebuah model baru di ajang GIIAS 2023.

    Untuk menambah kenyamanan bagi pengunjung, booth Honda  juga akan dilengkapi dengan customer lounge yang luas dan nyaman, arena bermain untuk anak-anak, berbagai aktivitas menarik, hingga program penjualan yang memudahkan konsumen melakukan pembelian. Selain itu, konsumen juga dapat melakukan test drive untuk mobil-mobil terbaru dari Honda di area GIIAS 2023.

    Yulian Karfili, Communication Strategy Senior Manager PT Honda Prospect Motor mengatakan, “Pada GIIAS 2023, Honda akan tampil dengan konsep yang benar-benar berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, dimana kami akan lebih banyak menampilkan teknologi-teknologi terdepan di bidang elektrifikasi, konektivitas, dan keselamatan. Selain itu, akan banyak wahana interaktif yang dapat dicoba pengunjung, display menarik, dan tentu saja program penjualan yang memberikan nilai lebih bagi konsumen. Kami percaya bahwa booth Honda tahun ini akan menjadi salah satu daya tarik di ajang GIIAS 2023.” Ajang GIIAS 2023 akan diselenggarakan di ICE, BSD mulai dari tanggal 10 – 20 Agustus 2023. Booth Honda di GIIAS 2023 akan berlokasi di Hall 6B dengan menampilkan total 27 unit mobil display yang terbagi menjadi beberapa zona.

    KENAPA PERAWATAN BERKALA ITU PENTING? KAPAN WAKTUNYA MELAKUKAN PERAWATAN BERKALA?

    KENAPA PERAWATAN BERKALA ITU PENTING? KAPAN WAKTUNYA MELAKUKAN PERAWATAN BERKALA?

    Honda Lovers masih bingung dengan pertanyaan-pertanyaan di atas? Agar tidak bingung lagi, yuk simak artikel berikut ini!

    Lalu kapan saat yang tepat untuk melakukan perawatan berkala? Perawatan berkala yang pertama wajib dilakukan 1 bulan / 1.000 KM* setelah mobil diserah terimakan oleh Dealer. Pada perawatan berkala yang pertama ini akan dilakukan pemeriksaan tanpa penggantian suku cadang. Perawatan berkala yang pertama ini bertujuan sebagai deteksi dini potensi masalah yang akan terjadi setelah mobil digunakan pertama kali. Setelah itu, perawatan berkala dilakukan setiap 6 bulan / 10.000 KM* sekali.


    Pada kondisi tertentu, perawatan berkala dapat dilakukan lebih cepat dari kondisi normalnya. Jika pemakaian mobil Honda Lovers tergolong pemakaian berat, maka disarankan untuk melakukan perawatan berkala setiap 3 bulan / 5.000 KM* sekali. Berikut ini merupakan tanda-tanda mobil Anda tergolong sebagai pemakaian yang berat:

      1. Sering terkena macet.
      2. Sering berkendara pada suhu yang panas (diatas 35° C).
      3. Sering berkendara dalam jarak yang pendek (kurang dari 8 KM).
      4. Sering melalui jalan yang berlumpur atau berdebu.
      5. Sering berkendara dengan kecepatan tinggi (diatas 100 KM/jam selama 2 jam terus menerus)


    Oleh karena itu, jangan lupa untuk selalu melakukan perawatan berkala sesuai dengan jadwal yang telah kami sebutkan di atas ya, Honda Lovers! Pastikan Honda Lovers selalu melakukan perawatan berkala di bengkel resmi Honda karena kami selalu siap melayani Anda. “Honda Always Happy to Serve You!” *mana yang tercapai terlebih dahulu

    CARA MERAWAT KAKI-KAKI MOBIL

    CARA MERAWAT KAKI-KAKI MOBIL

    Cara merawat kaki-kaki mobil sebenarnya harus diketahui oleh semua pemilik mobil. Sebab, jika tidak dirawat akan berpengaruh kepada kenyamanan dan finansial tentunya. Kalo kata anak sekarang sih, jadi boncos atau banyak mengalami kerugian. Kerugiannya tentu ada di pembelian untuk penggantian kaki-kaki mobil. Lumayan, lho, bujet yang dikeluarkan untuk melakukan penggantian kaki-kaki mobil. Rata–rata kisarannya bisa mencapai lebih dari Rp3 juta untuk perbaikan kaki depan atau belakang saja.  Maka dari itu, penting sekali mengetahui cara merawat kaki-kaki mobil supaya awet. Kira-kira apa saja cara yang bisa dilakukan oleh para pemilik mobil, ya?

    Cara Merawat Kaki-kaki Mobil

      • Tidak Menghantam Jalan Rusak

    Cara pertama untuk merawat kaki-kaki mobil yang paling mudah yakni selalu melakukan pengereman ketika melewati jalan rusak atau polisi tidur. Ini merupakan cara yang paling mudah untuk merawat kaki-kaki mobil supaya lebih awet. Mobil yang sering menghantam jalan rusak tentunya akan lebih cepat rusak. Terlebih para pemilik mobil ini selalu menghantam dengan kecepatan tinggi ketika melibas jalan tersebut. Sebaiknya Anda lebih banyak melakukan pengereman dan berhati-hati ketika melihat ada jalan rusak dan polisi tidur.  Nah, sekarang coba tanya pada diri sendiri, lebih banyak langsung menghantam polisi tidur atau mengerem dulu?

      • Berjalan Pelan di Jalan Rusak

    Untuk mengantisipasi hal di atas, Hondalovers setidaknya bisa berkendara dengan kecepatan yang sangat rendah ketika menemui jalan rusak atau polisi tidur. Cara ini cukup ampuh untuk merawat kaki-kaki mobil supaya jauh lebih awet. Walaupun Anda sedang berkendara sendiri, tak ada salahnya untuk berjalan perlahan melewati jalan rusak. Semakin sering menghantam jalan rusak, semakin cepat juga kaki-kaki mobil menjadi rusak. Coba diingat-ingat lagi tentang biaya perbaikannya. Nggak murah, lho!

      • Membawa Beban Berlebih

    Cara lain untuk merawat kaki-kaki mobil agar tetap awet yakni tidak membawa beban yang berlebihan. Usahakan Anda membawa beban yang direkomendasikan oleh pabrikan. Jangan sampai Anda membawa barang yang jauh lebih berat dibandingkan beban rekomendasi pabrikan. Sebab, jika dipaksakan maka akan berpengaruh terhadap keawetan kaki-kaki mobil. Biasanya mobil yang sering membawa beban berat akan lebih cepat rusak kaki-kakinya.

      • Rutin Melakukan Spooring

    Hondalovers pernah mendengar kata spooring? Nah, ini bisa jadi salah satu cara menjaga keawetan kaki-kaki mobil. Fungsi utama spooring sendiri tentunya untuk meluruskan posisi masing-masing roda mobil sesuai dengan posisi standar atau pengaturan pabrik.  Umumnya berdasarkan pemakaian, posisi roda akan mengalami sedikit pergeseran, terutama ketika melindas lubang atau jalanan rusak. Rekomendasi waktu melakukan spooring biasanya 6 bulan sekali. Atau bisa juga menggunakan jarak tempuh setiap 10.000 km sekali. Semakin sering Anda melewati jalanan rusak, maka semakin cepat juga direkomendasikan untuk melakukan spooring. Hal ini tentunya akan memaksimalkan kaki-kaki mobil agar lebih awet.

      • Rutin Memeriksa Kaki-kaki

    Pada saat melakukan spooring, Anda juga bisa sekaligus mengetahui kondisi kaki-kaki mobil. Biasanya mobil akan dinaikkan ke lift dan dilihat kondisi kaki-kaki dari bawah. Teknisi spooring yang baik akan memberikan informasi mengenai kaki-kaki mobil Anda apakah ada komponen yang harus diganti dulu sebelum spooring atau tidak. Namun, jarang sekali ada mekanik yang tidak mau melakukan spooring sebelum komponen kaki-kaki diganti. Jika komponen kaki-kaki ada yang sudah rusak dan tetap dipaksa spooring, maka hasilnya tidak akan maksimal. Atau bisa juga Anda meminta tolong kepada teknisi untuk menginfokan kondisi kaki-kaki. Jika ada komponen yang rusak, minta kepada teknisi tersebut untuk mencatat bagian yang harus diganti. Setelah mengetahui komponen apa saja yang harus diganti, Anda bisa memperbaiki kaki-kaki terlebih dahulu sebelum melakukan spooring.  Cara ini akan jauh lebih efektif dan efisien dibanding memaksakan harus spooring dengan kondisi kaki-kaki yang rusak.